Rabu, 12 September 2012
DIALOG: Anak Emas Konvensi Demokrat
Mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Purnawirawan Pramono Edhie Wibowo merupakan salah satu peserta Konvensi Capres Partai Demokrat. Pramono disebut-sebut sebagai anak emas dalam konvensi tersebut. Benarkah Pramono berpeluang besar untuk memang? Hadir dalam dialog Ketua DPRD Irman Gusman dan pengamat politik LIPI Siti Zuhro.
Rabu, 18 Juli 2012
Pengamat LIPI: Warga Sudah Jatuh Cinta pada Joko Widodo
Isu SARA Tidak Mempan
Rabu, 18 Juli 2012 , 19:37:00 WIB
RMOL.
Hasil Pilkada DKI Jakarta putaran kedua tidak akan beda jauh dengan
putaran pertamanya. Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI), Siti Zuhro, meyakini, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja
Purnama kembali berjaya dan terpilih menjadi pemimpin baru provinsi
ibukota negara.
"Masyarakat Jakarta terlalu jatuh cinta dengan Jokowi. Namun juga harus dicermati masalah ideologi dan upaya kampanye hitam yang akan dilakukan dalam Pilkada DKI Jakarta," ungkap Siti, di gedung DPD komplek Senayan, Jakarta (Rabu, 18/7).
Mantan anggota Timsel Calon Anggota KPU itu juga yakin, isu SARA yang dikembangkan dalam masa Pilkada tidak akan laku di Jakarta. Jakarta adalah pusat pemerintahan dan semua media nasional pasti serius menyoroti semua masalah di dalamnya.
"Masyarakat sudah jatuh cinta dengan Jokowi, jadi tidak mungkin berpaling. Bagaimana ya kalau orang jatuh cinta rasanya," sebut dia.
Sedangkan koalisi parpol yang sedang digencarkan saat ini jelang putaran dua, menurut Siti tidak akan berpengaruh banyak pada pilihan rakyat. Suara parpol sudah distigma sebagai suara elit semata.
"Lihat saja Partai Golkar di Indonesia Timur begitu besar, tapi di DKI Jakarta Partai Golkar tidak bisa berbuat apa-apa dalam mendongkrak suara calonnya, Alex Noerdin," simpulnya. [ald]
Rabu, 18 Juli 2012 , 19:37:00 WIB
Laporan:
![]() |
| SITI ZUHRO/IST |
"Masyarakat Jakarta terlalu jatuh cinta dengan Jokowi. Namun juga harus dicermati masalah ideologi dan upaya kampanye hitam yang akan dilakukan dalam Pilkada DKI Jakarta," ungkap Siti, di gedung DPD komplek Senayan, Jakarta (Rabu, 18/7).
Mantan anggota Timsel Calon Anggota KPU itu juga yakin, isu SARA yang dikembangkan dalam masa Pilkada tidak akan laku di Jakarta. Jakarta adalah pusat pemerintahan dan semua media nasional pasti serius menyoroti semua masalah di dalamnya.
"Masyarakat sudah jatuh cinta dengan Jokowi, jadi tidak mungkin berpaling. Bagaimana ya kalau orang jatuh cinta rasanya," sebut dia.
Sedangkan koalisi parpol yang sedang digencarkan saat ini jelang putaran dua, menurut Siti tidak akan berpengaruh banyak pada pilihan rakyat. Suara parpol sudah distigma sebagai suara elit semata.
"Lihat saja Partai Golkar di Indonesia Timur begitu besar, tapi di DKI Jakarta Partai Golkar tidak bisa berbuat apa-apa dalam mendongkrak suara calonnya, Alex Noerdin," simpulnya. [ald]
Minggu, 15 Juli 2012
Pilkada Putaran Kedua, PKS Bakal Galau
TEMPO.CO, Jakarta
- Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti
Zuhro, memprediksi suara Partai Keadilan Sejahtera akan beralih ke
pasangan incumbent Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli. "PKS akan blunder kalau memilih Jokowi karena melanggar khittah," kata Siti Zuhro ketika dihubungi Tempo, Sabtu, 14 Juli 2012. (Baca: Putaran Kedua Pilkada DKI, Perang Ideologi)
Siti mengatakan ideologi PKS dan PDIP, partai pengusung Jokowi-Basuki, sangat berseberangan. PDIP mempunyai ideologi nasionalis sedangkan PKS lebih ke agama. Apalagi pasangan Jokowi berasal dari kalangan nonmuslim. Jika ia menyeberang mendukung Jokowi, kata Siti, PKS akan keluar dari citranya. (Baca: Putaran Kedua, Pemilih PKS Bakal Terbelah?)
Siti menuturkan PKS akan kehilangan simpatisannya di 2014 jika beralih ke pasangan nomor urut tiga. "Sekarang saja suaranya sudah jauh berkurang dibanding sebelumnya, apalagi kalau memberikan dukungan," kata peneliti senior ini.
Siti juga memperkiraan PKS Jakarta akan mengikuti konstelasi politik nasional. Pada tataran nasional, PKS segerbong dengan Demokrat pengusung Fauzi. "Jika daerah masih mungkin bersama PDIP, tapi ini Jakarta," kata Siti. Jakarta, sebagai ibu kota negara, sangat dekat dengan kekuasaan.
Meski memprediksi PKS akan mendukung calon incumbent, Siti Zuhro membenarkan langkah Fauzi mendekati Ketua Majelis Syuro PKS, Hilmi Aminuddin, sebagai upaya untuk melobi partai peraih suara nomor 2 di Jakarta ini. Upaya ini untuk menekankan nilai lebih Fauzi Bowo di mata PKS. (Baca: Fauzi Bowo Temui Petinggi PKS)
SUNDARI
Siti mengatakan ideologi PKS dan PDIP, partai pengusung Jokowi-Basuki, sangat berseberangan. PDIP mempunyai ideologi nasionalis sedangkan PKS lebih ke agama. Apalagi pasangan Jokowi berasal dari kalangan nonmuslim. Jika ia menyeberang mendukung Jokowi, kata Siti, PKS akan keluar dari citranya. (Baca: Putaran Kedua, Pemilih PKS Bakal Terbelah?)
Siti menuturkan PKS akan kehilangan simpatisannya di 2014 jika beralih ke pasangan nomor urut tiga. "Sekarang saja suaranya sudah jauh berkurang dibanding sebelumnya, apalagi kalau memberikan dukungan," kata peneliti senior ini.
Siti juga memperkiraan PKS Jakarta akan mengikuti konstelasi politik nasional. Pada tataran nasional, PKS segerbong dengan Demokrat pengusung Fauzi. "Jika daerah masih mungkin bersama PDIP, tapi ini Jakarta," kata Siti. Jakarta, sebagai ibu kota negara, sangat dekat dengan kekuasaan.
Meski memprediksi PKS akan mendukung calon incumbent, Siti Zuhro membenarkan langkah Fauzi mendekati Ketua Majelis Syuro PKS, Hilmi Aminuddin, sebagai upaya untuk melobi partai peraih suara nomor 2 di Jakarta ini. Upaya ini untuk menekankan nilai lebih Fauzi Bowo di mata PKS. (Baca: Fauzi Bowo Temui Petinggi PKS)
SUNDARI
Minggu, 17 Juni 2012
Siti Zuhro: Demokrasi Partisipasipatif Dapat Peluang
JAKARTA, suaramerdeka.com - Pengamat Politik Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai Lolosnya pasangan
independen Faisal Basri-Biem Benjamin untuk merebut kursi DKI 1,
menunjukkan bahwa demokrasi partisipatif mendapat peluang.
Hal ini merupakan pembelajaran bagi publik bahwa kemunculan independen merupakan wujud dari konsolidasi demokrasi. “Konsolidasi demokrasi agar jangan yang prosedural, tapi endingnya mampu memunculkan pemimpin yang kita harapkan, yaitu yang memiliki integritasm kredibilitas, dan kompetensi,” kata Zuhro.
Zuhro berharap, Faisal-Biem tetap optimistis untuk menjadi pasangan yang memberikan pembaruan dalam proses politik saat ini. “Jangan targetkan menang, tapi bagaimana menjadi pembaru dalam proses politik seperti ini. Nanti kalau orientasinya menang, malah kecewa karena bukan idealisme yang ngomong, tapi kekuasaan. Apa bedanya dengan partai politik kalau begitu,” lanjut Zuhro.
Menurut Zuhro, ada yang lebih mulia dari sekadar menang. “Anda memberikan pencerahan, memberikan semacam *transfer knowledge* yang benar di era demokrasi seperti ini. Ketimbang hanya menang,” tandas Zuhro.
Sebelumnya Zuhro menilai Cagub DKI dari jalur perseorangan Faisal Basri cukup “gila” untuk bisa memimpin Jakarta yang kompleks dan karut marut ini.
“Dia (Faisal) orang yang peduli pada kebenaran, pada satu idealisme, yang di tataran praktisnya adalah dia ingin ada pembaruan di Jakarta. Dia sangat pro pada bagaimana tata kelola pemerintahan yang baik, bagaimana semua kontrak dijalankan untuk kepentingan rakyat. Itu bagus sekali. Agak gila di tengah korupsi yang marak seperti ini,” tegas Zuhro.
( Andika Primasiwi / CN26 / JBSM )
Hal ini merupakan pembelajaran bagi publik bahwa kemunculan independen merupakan wujud dari konsolidasi demokrasi. “Konsolidasi demokrasi agar jangan yang prosedural, tapi endingnya mampu memunculkan pemimpin yang kita harapkan, yaitu yang memiliki integritasm kredibilitas, dan kompetensi,” kata Zuhro.
Zuhro berharap, Faisal-Biem tetap optimistis untuk menjadi pasangan yang memberikan pembaruan dalam proses politik saat ini. “Jangan targetkan menang, tapi bagaimana menjadi pembaru dalam proses politik seperti ini. Nanti kalau orientasinya menang, malah kecewa karena bukan idealisme yang ngomong, tapi kekuasaan. Apa bedanya dengan partai politik kalau begitu,” lanjut Zuhro.
Menurut Zuhro, ada yang lebih mulia dari sekadar menang. “Anda memberikan pencerahan, memberikan semacam *transfer knowledge* yang benar di era demokrasi seperti ini. Ketimbang hanya menang,” tandas Zuhro.
Sebelumnya Zuhro menilai Cagub DKI dari jalur perseorangan Faisal Basri cukup “gila” untuk bisa memimpin Jakarta yang kompleks dan karut marut ini.
“Dia (Faisal) orang yang peduli pada kebenaran, pada satu idealisme, yang di tataran praktisnya adalah dia ingin ada pembaruan di Jakarta. Dia sangat pro pada bagaimana tata kelola pemerintahan yang baik, bagaimana semua kontrak dijalankan untuk kepentingan rakyat. Itu bagus sekali. Agak gila di tengah korupsi yang marak seperti ini,” tegas Zuhro.
( Andika Primasiwi / CN26 / JBSM )
Siti Zuhro: Faisal Basri Cukup “Gila” untuk Pimpin Jakarta
JAKARTA, suaramerdeka.com - Pengamat Politik Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai Cagub DKI dari
jalur perseorangan Faisal Basri cukup “gila” untuk bisa memimpin Jakarta
yang kompleks dan karut marut ini.
“Dia (Faisal) orang yang peduli pada kebenaran, pada satu idealisme, yang di tataran praktisnya adalah dia ingin ada pembaruan di Jakarta. Dia sangat pro pada bagaimana tata kelola pemerintahan yang baik, bagaimana semua kontrak dijalankan untuk kepentingan rakyat. Itu bagus sekali. Agak gila di tengah korupsi yang marak seperti ini,” tegas Zuhro.
Zuhro juga menyebutkan, tugas berat menanti calon gubernur yang akan datang untuk menjadikan Jakarta sebagai kota bermartabat dan menjadi center of service (pusat pelayanan) bagi seluruh warganya.
Selama ini, pelayanan publik dinilai masih sangat jauh dari yang diinginkan masyarakat. Hal itu ditunjukkan dengan susahnya masyarakat miskin berobat, mengakses pendidikan, dan mengurus pelayanan lainnya.
“Apa mampu kalau gubernur itu adalah sosok yang pro-status quo, yang banyak dijerat oleh kepentingan yang tidak bisa membuat dia bergerak. Harus ada gebrakan baru. Pemilukada 2012 harus beda dengan 2007, rakyat tidak boleh lagi permisif, berapology. Harus menjadi pemilukada yang partisipatif,” lanjut Zuhro.
( Andika Primasiwi / CN26 / JBSM )
“Dia (Faisal) orang yang peduli pada kebenaran, pada satu idealisme, yang di tataran praktisnya adalah dia ingin ada pembaruan di Jakarta. Dia sangat pro pada bagaimana tata kelola pemerintahan yang baik, bagaimana semua kontrak dijalankan untuk kepentingan rakyat. Itu bagus sekali. Agak gila di tengah korupsi yang marak seperti ini,” tegas Zuhro.
Zuhro juga menyebutkan, tugas berat menanti calon gubernur yang akan datang untuk menjadikan Jakarta sebagai kota bermartabat dan menjadi center of service (pusat pelayanan) bagi seluruh warganya.
Selama ini, pelayanan publik dinilai masih sangat jauh dari yang diinginkan masyarakat. Hal itu ditunjukkan dengan susahnya masyarakat miskin berobat, mengakses pendidikan, dan mengurus pelayanan lainnya.
“Apa mampu kalau gubernur itu adalah sosok yang pro-status quo, yang banyak dijerat oleh kepentingan yang tidak bisa membuat dia bergerak. Harus ada gebrakan baru. Pemilukada 2012 harus beda dengan 2007, rakyat tidak boleh lagi permisif, berapology. Harus menjadi pemilukada yang partisipatif,” lanjut Zuhro.
( Andika Primasiwi / CN26 / JBSM )
Langganan:
Postingan (Atom)

